Acara televisi “Ustadz Fotocopy SCTV" Episode: “Mantan Lurah dan Calo Surat Sertifikat Tanah”



“Ustadz Fotocopy SCTV"

Antena TV Bagus Wajanbolic sudah terpasang dengan sempurna, tegak menjulang di angkasa. Sudah saatnya melepas kepenatan yang terasa, setelah berpeluh-peluh ria memasang Antena TV Wajanbolic, Antena TV Bagus. Ternyata sangat mudah memasangnya dan tidak perlu merakit lagi. Dilihat dari bahannya, ow ow ow sungguh kokoh dan pasti sangat awet serta anti karat, karena terbuat dari Full Aluminium Asli. Dan penjualnya di http://antenatv-rakitan.blogspot.com sungguh ramah dan mempesona Antena TV-nya, begitu lihat di internet langsung jatuh cinta pada pandangan maya pertama. Pesan online dan bayar via BCA, responsnya cepat dan luar biasa, Insya Alloh tidak ditipu!
Lalu, ingin melihat hasilnya di layar TV LCD yang baru beli kontan kemarin. Kebetulan lagi gandrung sama acara televisi sinetron "Ustadz Fotocopy SCTV".
Bagaimana jalan ceritanya, yuk kita tonton bersama-sama acara televisi dengan Antena TV Bagus Wajanbolic yang sudah terpasang dengan sempurna.
Siap dan pencet remote tv-nya.

Cerita ini bisa saja pernah terjadi di lingkungan warga masyarakat .
*Sebagai gambaran ceritanya begini :

Sebelum lengser dari , pak Mustofa ternyata menjalin kerjasama dengan Muhidin, yang tak lain adalah calo Surat Sertifikat tanah dan calo pembuatan sertifikat tanah, yang katanya mempunyai kerabat yang menjadi Staff di Kantor Badan Pertanahan Nasional.
Kerjasama tersebut setelah dihitung-hitung Pak Mustofa ternyata menguntungkan. Supaya dilihat warga masyarakat kalau pembuatan sertifikat tanah kelihatan resmi dan merupakan program dari pemerintah, maka Pak Lurah Mustofa (saat itu) memerintahkan segenap bawahannya, aparat kelurahan bekerja sama dengan Ketua RT, Ketua RW di Lingkungan Kelurahan yang dipimpinnya, untuk bersama-sama mensukseskan program pembuatan surat sertifikat tanah.

Banyak warga antusias dan menyambut baik program ini, dan banyak warga masyarakat juga, yang tidak mengetahui di balik program ini ternyata menggunakan jasa  calo surat tanah yang bernama Muhidin.
Pada langkah awal, setiap peminat program ini diminta dana awal untuk biaya pembuatan surat sertifikat tanah sekitar 525 ribu untuk biaya pengukuran tanah dan luas bangunan. Dan memang pengukuran ini terbukti secara masiv di laksanakan. Sebuah langkah, yang bisa mengundang simpati warga dan tidak bohong, karena memang benar ada pengukuran tanah dan luas bangunan.
Namun setelah menunggu hingga mungkin 1 tahun, tersiar kabar dari Ketua RW kalau uang pengurusan pembuatan sertifikat tanah, ternyata di bawa kabur Muhidin ( ada yang bilang Muhidin kawin lagi dan kabur ke Bandung). Dan hanya beberapa dokumen saja yang benar-benar di serahkan Muhidin ke Kantor BPN, sedangkan sisanya masih teronggok rapi di rumah mantan lurah Mustofa (Mustofa telah lengser dari jabatannya sebagai Lurah).

Warga yang ditipu merasa marah pada Mustofa, tapi Mustofa juga merasa tidak menerima sepeserpun dari Muhidin, ibaratnya Mustofa menjadi tumbalnya Muhidin dan menyerahkan semua berkas pengurusan pembuatan surat tanah pada Ketua RW dan LPM (Lembaga Pengabdian Masyarakat). Mustofapun lepas tangan dan merasa tak bertanggung jawab lagi, meski di berkas-berkas tersebut telah tercantum tanda tangannya ketika masih menjabat sebagai lurah.

Akhirnya mobil Muhidin dan rumah Muhidin (ternyata masih ditempati istri dan anak-anaknya) disita warga. Mobil Muhidin laku terjual  dan dipakai untuk menambal dana pengurusan dokumen-dokumen  yang sudah terlanjur masuk di kantor Badan Pertanahan Nasional.
Sedang rumah Muhidin yang masih disita, belum laku terjual, karena posisinya terletak pada gang yang sempit.

Semoga hal ini bisa menjadi pembelajaran bagi Kepala Kelurahan, aparat kelurahan, tokoh masyarakat, Ketua RT, Ketua RW dan warga masyarakat, agar cermat, teliti dan cerdas ketika akan melakukan pengurusan pembuatan sertifikat tanah. 

Demikian juga halnya Kantor BPN beserta aparatnya dimanapun berada di wilayah Republik Indonesia, harus transparant  kepada warga masyarakat dalam pengurusan pembuatan sertifikat tanah, jangan sampai ada pegawai BPN yang nyambi jadi calo atau ada calo yang mempunyai akses ke BPN, yang justru akan memberatkan masyarakat. Indonesia kan bukan milik perseorangan, kelompok, partai tertentu, tapi milik segenap warga Negara Indonesia tanpa terkecuali, makanya harus terus mengawal jalannya republik ini.

Catatan :
Pada bulan Januari 2013, rumah Muhidin si calo surat tanah di Rawa Bebek Kota Baru Bekasi sudah laku terjual , dan akhirnya para pemohon mendapat ganti rugi 40% dari uang yang sudah masuk (Rp. 2.525.000, sisanya dibawa kabur sama Muhidin?
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...